Pengamat Politik Salim Said menyebut ada dua profesi yang tidak mungkin ditinggalkan dalam keadaan apapun, yaitu pemain film dan politikus. Menurut Salim, politikus baru meninggalkan panggung politik ketika rakyat sudah tidak memilihnya lagi.
“Politikus juga begitu, politikus yang tersingkir bukan karena ‘ah sudah cukup, aku mau istirahat’ enggak. Mereka keluar soalnya enggak laku lagi. Jadi jangan berharap para politisi itu legowo, kata itu enggak ada dalam ensillopedi politik. Sudah disobek,” kata Salim saat diskusi di kawasan Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/2/2015).
Maka dari itu, tidak heran jika wajah-wajah yang mengisi bursa calon ketum partai tidak ada yang berbeda sejak 20 tahun yang lalu. Seperti halnya yang terjadi dalam Kongres Partai Amanat Nasional (PAN) ke-4 di Bali.
“Seharusnya, empat kali pemilu, empat kali konggres, politisi utamanya sudah berubah. Ini yang menjadi ironi dari kelembagaan partai politik di Indonesia, harusnya ketika menginjak pada siklus keempat, itu mereka sudah bisa memberikan wadah yang lebih bagus pada kesempatan yang lebih bagus untuk politisi-politisi muda,” imbuh Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto.
Menurut Nico, pemberian kesempatan bagi kader muda penting dalam mengambil alih partai. Hal ini dilakukan supaya partai tersebut dapat lebih dinamis dan menjadi kekuatan pembaharu.”Karena pembaharuan itu tidak mungkin dijalankan generasi yang lama,” pungkas Nico.
Sumber: https://www.medcom.id/nasional/politik/ObzOAqYk-profesi-politikus-tak-kenal-pensiun


