Menjadi seorang auditor internal bukanlah pilihan profesi dalam impian dan cita-cita saya. Jangankan terpikirkan, terlintaspun rasanya tidak pernah.
Kondisi ini mendorong saya untuk mengetahui bagaimana perasaan rekan-rekan di tempat saya bekerja ketika bekerja sebagai seorang auditor internal.
Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 70% auditor internal di tempat saya bekerja, seluruhnya menyatakan tidak pernah bercita-cita ataupun berkeinginan menjadi auditor internal. Pernyataan yang unik dari survey ini adalah “sudah tercebur kolam, yah mau ga mau kita harus berenang”.
Namun, terjun di dunia audit ternyata tidak membuat rekan-rekan kerja menyerah, tetapi sebaliknya, mereka menunjukkan antusias dan semangat yang bergelora. Mungkin saya bisa istilahkan ibarat terjebak di hutan yang penuh harta karun, pada akhirnya memicu semangat diri sendiri untuk terus mencari harta karun tersebut.
Apa sih yang menarik dari dunia auditor internal? Berdasarkan pernyataan rekan-rekan yang bekerja di auditor internal di tempat saya bekerja, beberapa pengalaman ketika terjun sebagai auditor rasanya seperti permen nano-nano:
Tau Lebih Banyak
Saya pribadi tidak memiliki kualifikasi dan ilmu secara menyeluruh tentang proses bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Sesuai dengan surat keputusan penempatan di awal saya bekerja, secara eksplisit saya bertanggungjawab terhadap satu bidang proses saja. Sehingga untuk mengetahui proses di bidang lain secara luas dan menyeluruh hampir tidak pernah terjadi.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang saya peroleh dari rekan-rekan kerja, bekerja sebagai auditor internal mendorong mereka untuk mencari tau bahkan memahami proses bisnis di perusahaan.
Penugasan yang banyak dan beranekaragam pada akhirnya memperkaya pengetahuan terhadap seluruh proses bisnis perusahaan secara menyeluruh. Secara tidak langsung, alam di dunia kerja sebagai auditor internal memperkaya pengetahuan tentang perusahaan.
Relasi dan Teknik Komunikasi Meningkat
Pekerjaan auditor internal adalah pekerjaan yang sebagian besarnya adalah berkomunikasi dengan auditee. Auditee yang berasal dari jabatan yang berbeda, daerah yang berbeda dan budaya yang berbeda pada akhirnya menambah skill dan kemampuan untuk berkomunikasi lebih baik.
Bukan komunikasi yang sesuka hati, tetapi komunikasi yang pada akhirnya bisa membuat auditee nyaman bersama kita. Pada akhirnya alam dunia kerja auditor internal membawa kita kepada sebuah dunia adaptasi dengan berbagai teknik komunikasi yang tepat.
Berpetualang ke berbagai tempat
Auditor internal itu pekerjaanya nomaden, artinya berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Selesai satu penugasan di suatu tempat, selanjutnya berpindah ke penugasan selanjutnya di tempat yang lain.
Kita lebih senang menyebutnya sebagai bonus dalam pekerjaan. Tujuannya adalah bekerja, tetapi secara tidak langsung alam kerja membawa kita kepada kenyataan untuk “berpetualang ke kota/daerah” yang baru. Kata pepatah “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”.
Selalu awet muda
Suasana dan relasi antar sesama auditor internal yang hangat membuat kita selalu dalam kondisi bahagia. Pastinya kondisi ini bisa tercipta karena setiap orang memberi diri untuk saling memahami dan tidak mementingkan diri sendiri.
Bagi saya tersendiri, bekerjasama dan selalu bersama-sama dengan orang-orang muda, fresh, dan menarik, membuat saya selalu serasa muda. Kalau dalam ilmu fisika gaya tarik menarik akan terjadi ketika kutub negatif bertemu dengan kutub positif.
Dalam hal ini, saya yang tidak lagi muda ditarik menjadi muda oleh magnet auditor muda. Walaupun kondisi ini sebenarnya menyakitkan karena kondisi ini menunjukkan bahwa saya tidak muda lagi.
Nah, bagaimana dengan tantangan dan duka yang dihadapi setiap auditor? Apakah kondisi suka tersebut menjadikan auditor menjadi profesi “comfort zone”? Ternyata indahnya dunia auditor tidak seindah tantangan yang dihadapi. Hal ini terkadang membuat auditor merasa tegang, bahkan tidak bisa tidur:
Berhadapan dengan auditee yang tidak kooperatif
Kondisi ini menjadi tantangan bagi sebagian besar auditor internal. Perjalanan pemeriksaan tidak berjalan mulus seperti mulusnya selonjoran di area permainan Taman Kanak Kanak.
Ada kalanya auditee yang kita hadapi adalah orang yang super sibuk sehingga sulit dijumpai, terkadang auditee kita adalah orang yang telah memiliki pengalaman lebih dari diri kita sendiri. Kondisi-kondisi ini membuat kita benar-benar berjuang di tengah-tengah waktu pemeriksaan yang terus berjalan.
Tuntutan untuk bertindak cepat dan tepat
Tak selamanya proses yang kita periksa dari suatu tempat ke tempat lain selalu sama. Dan tak selamanya proses yang ditugaskan kepada kita selalu sama dalam setiap pemeriksaan.
Kondisi ini menuntut kita untuk benar-benar bergerak cepat. Deadline yang sudah diujung tanduk menuntut kita untuk menghabiskan waktu sedikit berlembur di tempat penginapan.
Mau tidak mau, kita harus menghasilkan output sesuai dengan milestone waktu yang telah ditetapkan. Mau tidak mau milestone ini menuntut kita untuk bertindak cepat dalam menghasilkan output yang tepat. Karena jika tidak, artinya kita bekerja lambat.
Mengalami Jalan Buntu Dalam Pemeriksaan.
Biasanya adrenalin selalu terpacu setelah beberapa hari menjelang penutupan periode pemeriksaan. Dalam rentang waktu yang sangat singkat kita berjuang untuk mendapatkan data yang mendukung dengan embrio hasil pemeriksaan yang telah kita temukan sebelumnya. Tapi tak jarang juga, di detik-detik terakhir pengumpulan kertas kerja, kita menjumpai titik buntu.
Tidak dapat mendalami kearah mana hasil pemeriksaan berujung ditambah lagi dengan keterbatasan data yang diperoleh. Jangankan lembur, tidur pun tak tenang memikirkan kondisi tersebut. Tapi namanya kerja dalam tim, di titik darah penghabisan, selalu ada titik cerah, secercah bala bantuan dari rekan kerja dan atasan.
Adakalanya juga, pada saat penutupan, auditee menunjukkan bukti yang lebih kuat dan up to date terkait temuan yang kita telah tuliskan. Mau ga mau, kita harus belajar sabar menyaksikan hasil usaha kita tidak dimuat dalam laporan pemeriksaan. Bersabar dan legowo dalam kondisi seperti ini benar-benar perjuangan.
Auditor sebagai Passion
“Selalu berjuang keras menjadikan profesi auditor menjadi passion” merupakan salah satu pernyataan rekan kerja pada saat survey dilakukan. Passion itu artinya perasaan suka yang sangat besar atau gairah yang sangat tinggi terhaap suatu aktivitas, obyek atau konsep.
Kenapa profesi ini harus dijadikan sebagai passion? Karena bekerja dengan penuh cinta dan gairah akan cenderung memberi hasil yang lebih dan maksimal dalam pekerjaan yang kita lakukan. Ini tantangan, ternyata setiap auditor berjuang untuk terus menjadikan profesi ini sebagai passion dalam hidupnya.
Dunia auditor internal adalah dunia yang unik dan menarik. Ibarat harta karun yang terpendam, semakin kita mencari dan menggali semakin kita menemukan ilmu yang semakin membuat kita kaya. Semoga dunia auditor internal menjadi dunia pekerjaan yang Mulia bagi kita semua.



