Menjadi hakim dalam menangani berbagai kasus di masyarakat adalah tantangan tersendiri bagi penegak hukum.
Hal itu seperti dikatakan salah satu Hakim Pengadilan Tinggi Denpasar, Budi Santoso, S.H., M.H.
Baru di bulan Juli 2017, Budi Santoso diangkat menjadi Hakim Tinggi Bali.
Saat Tribun Bali bertemu dengan Budi Santoso, ia menceritakan banyak hal menarik dan suka duka selama menjadi hakim.
“Semua hakim ya suka dukanya selalu ada. Ya kalau kita bertugas di tempat yang bukan tempat asal kita, cukup jauh dengan keluarga, ya itu dukanya. Sukanya ya tentu banyak pengalaman, kita bisa mengetahui daerah-daerah lain,” ujarnya kepada Tribun Bali.
25 tahun sudah ia menjadi penegak hukum dan menangani berbagai kasus.
Sebelum ia menjabat sebagai Hakim Tinggi Bali, Budi pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Kelas I B, Pengadilan Kelas I A, dan Pengadilan Kelas I A Khusus.
Hakim Tinggi Bali yang berasal dari Kediri, Jawa Timur ini juga menceritakan pengalaman selama menjadi hakim.
Banyak perkara-perkara yang menarik meskipun terkadang substansi hukumnya tidak pelik, namun karena masyarakat menganggap itu menarik ia pun merasa ikut tertarik untuk menangani kasus tersebut.
Selain itu, saat Tribun Bali menanyakan terkait bekerja sebagai hakim, Budi menjawab ada kebanggan bisa menjadi hakim apalagi dengan kemandirian yang dilakukan saat menjalankan sidang.
“Ketika ada suatu hal yang membuat kita lemah atau karena ancaman dan lainnya, kita harusnya tetap mandiri. Jika karena situasi tertentu itu kita mengorbankan kemandirian, itu pasti ada rasa tidak nyaman. Namun ketika bisa menunjukkan kemandirian, di situ ada rasa kebanggaan menjadi hakim,” tambahnya.
Budi Santoso berharap kedepannya generasi muda yang bekerja sebagai penegak hukum bisa lebih baik.
Di era modernisasi, generasi muda yang menjadi penegak hukum diharapkan bisa lebih kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan.
“Harapannya tentu bagi hakim yang muda-muda ini akan lebih baik dari kita, lebih tahan dan kuat dalam menangani semua tantangan. Tantangan kedepan pasti lebih berat dari pada tantangan kami. Karena sekarang yang dihadapi modernisasi, dihadapkan dengan tantangan-tantangan situasi global, model pemerintahan dan segala macam,” jelasnya.
“Hakim itu sebagai hukum panglima, dimana hakim harus bisa menegakkan hukum itu sendiri, nah itu sebagai tantangannya. Makanya dengan adanya acara ini juga sebagai masukan kepada calon hakim yang ada,” terangnya kepada Tribun Bali.(*)


